Politik Aceh Gagal: Ibarat, “Dua Istri Tidur Seranjang dengan Seorang Suami”

Oleh : Afridany Ramli

OPINI – www.suarapublik.co.id | PERTANYAAN yang tersimpan dalam benak kita hari ini adalah ada apa dengan politisi Aceh? Apakah mereka lupa pada segenap janjinya yang belum terealisasi? Tidak bosankah kita menanti pada janji-janji yang tak terpenuhi, atau barangkali kita kerap sekali bangga disebut sebagai pembual? Lebih tepatnya digelar politisi mencari pekerjaan yang bergaji!

Ini bukan puisi, tapi tuntunan nurani segenap hati rakyat setelah kami mengendap dengan observasi. Alangkah sedihnya tak dibayangkan kalau pandangan kita pada retina mata mereka yang menatap mimpi-mimpi dari panggung kampanye tempo hari, seolah-olah ketika tahu Aceh sedang memimpin berdiri, mereka telah bebas dari belenggu tirani dan seakan sudah merdeka.

Namun ternyata sebaliknya. Apalagi yang dinanti-nantikan sehingga fakta berkata lain bahwa sering sekali kita temukan dalam beberapa tahun ini adalah keluhan rakyat Aceh bimbang menentukan nasibnya sendiri. Apapun bentuk pengelolaannya wewenang Pemerintah Aceh harus menempuh jalur pusat (Pemerintah Negara Republik Indosnesia) meski sudah termaktub dalam MoU Helsinki.

Bahkan banyak sekali yang menyalahi bahwa naskah perdamaian yang telah tersepakati antara Pemerintah Pusat dengan Aceh di Helsinki, Finlandia malah mempersulit jalannya kemajuan bagi keberlangsungan kehidupan rakyat. Ibarat Alquran lusuh yang tak bisa dibaca, seyogia dibuang berdosa akan tetapi tidak tahu harus dikemanakan.

Jika dikaji dari aspek pembangunan infrastruktur, benar bahwa Aceh sudah lebih maju ketimbang provinsi-provinsi lain di Indonesia. Seperti jalan, fasilitas umum kini sudah memadai dan berkembang pesat disegala macam sektor. Dimana semua wacana program tersebut lebih menyentuh kepada rakyat, diakui atau tidak itu adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri lagi setelah Aceh menerima kucuran dana Otonomi Khusus (Otsus) melimpah.

Nah, yang menjadi pertanyaan besar adalah, apalagi; Mengapa rakyat masih membutuhkan solusi atas penderitaannya? atau bisa dikategorikan jalan keluar apa yang harus ditempuh? agar bisa menyeimbangkan diri dengan kemajuan semakin berkembang pesat belakangan itu. Benarkah demikian? Ada apa dengan rakyat Aceh?

Sebenarnya saya pun heran, akan tetapi jika boleh jujur, saya akan berani mengatakan bahwa ideologi telah menjadi komoditi yang diekspor dan diimpor keluar negeri.

Etnonasionalisme merupakan induk dasar idealisme perjuangan rakyat Aceh untuk merebut kemerdekaan sekaligus berperang dengan Pemerintah Pusat. Klaim ini telah menjadi rahasia umum, dimana sekarang menjadi tolak ukur melalui winwin solution political bagi keberlanjutan perjuangan rakyat Aceh dengan adanya Momerendum Of Understanding (MoU) Helsinki.

Artinya rakyat Aceh meski berpayung dibawah MoU Helsinki, tetap dipagari oleh UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ibarat, dua istri tidur seranjang dengan seorang suami, apa yang terjadi, coba bayangkan. Sungguh aneh tapi nyata.

Silang sengkarut ini, tak akan berakhir, jikalau persoalan semua butir itu tanpa mengarah pada penyelesaian secara menyeluruh atau sepenuhnya terimplementasi dengan sempurna. Sebab dalam hal ini, rakyat Aceh menanti hasil yang konkrit dan nyata dari semua itu. Barangkali rakyat sudah jenuh dengan janji-janji palsu apalagi mengingat colling down yang tak berhasil menemui jalan buntu.

Seharusnya disaat usia perdamaian yang sudah mencapai hampir lama begini, sudah sewajarnya rakyat menikmati hasilnya. Misalnya persoalan bendera, himne atau kedudukan lain yang mempunyai wewenang khusus bagi Aceh. Tentu semua harapan-harapan itu adalah impian rakyat yang tak terpisahkan. Oleh karena itu pemangku kebijakan kepentingan Aceh pun hanya duduk manis tinggal diam disaat Pemerintah Pusat menolak.

Alasannya sangat sederhana, menuru hemat saya yang membedakan martabat manusia dengan binatang, hanyalah Taqwa disisi Tuhannya. Dan, tiada pula berbeda antara manusia Eropa, Asia, maupun dibelahan benua lainnya, kecuali hanya kejahatan dan kebaikan. Terlepas dari nilai-nilai moral dan agama persoalan kekayaan baik di laut, daratan dan pegunungan, meski sebesar mungkin gunung emas tertambangi, kita masih kalah siang dengan negara-negara maju lainnya.

Jadi, apa yang kita perebutkan? Untuk apa MoU Helsinki. Sungguh sangat disayangkan, apalagi hanya karena selembar kain bendera diperebutkan bisa tumpah darah, jiwa-jiwa mati tergeletak dalam sejarah. Merdeka hanyalah slogan untuk berkoar-koar bagi sebuah proyek para elit-elit politik yang mengatasnamakan kepentingan, tak ubahnya MoU Helsinki. Disadari atau tidak menjadi rakyat serupa bola pingpong yang ditempong para pemainnya.

Maka, dengan sangat prihatin, saya berkesimpulan bahwa perdamaian yang telah disepakati bersama menjadi driver otentik bagi kemajuan Aceh ke depannya hampir-hampir rapuh. Bukan tidak mungkin, kalau kita tidak cerdas dalam memanfaatkan segala apa yang telah membangun selama ini didepan mata kita sungguh semua ini tiada mempunyai nilai-nilainya. Contohnya; jalan-jalan ke pegunungan yang sudah memadai.

Kini, mari kita pikirkan kembali apakah begitu pentingnya membunuh dan bertikai sesama hanya untuk hanya untuk membentuk sebuah Undang-Undang demi kekhususan Aceh? Saya rasa tidak perlu.

Merebut kekuasaan kalau sesama saudara kita mati berlumuran darah, membathin dan saling bertikai, ada baiknya saya rasa tidak penting semua material sejenis itu. Kalau hidup kita berkubangan darah dalam bathin yang berkelindapan dalam airmata.

Kalau rakyat ingin mengetahui bagaimana kebebasan itu, maka sejatinya segala aturan yang sudah berlaku itu dihapuskan saja atas kebijakan pemerintahan. Aturan telah menjadi dilema bukan kemuslihatan hidup, bukan memperbaiki malah menjajah. Yang dibutuhkan para penjajah adalah pilot project agar mendapatkan fee.

Kesejahteraan tak bisa diterapkan, jikalau kekuasaan aturan UUD begitu ketat. Pastinya dengan keadaan rakyat Aceh tempoe doeloe, sejarah telah mencatat pada dunia dengan tinta emas bahwa hukum tidaklah demikian sehingga rakyat hidup sejahtera. Dunia menilik keberadaan bangsa teuleubeuh ateuh rhueng donja Aceh dengan azas-azas yang tidak serupa dengam sekarang ini.

Persoalan pelik yang dirasakan rakyat Aceh hari ini adalah bukan lagi persoalan perut seperti yang digembar-gemborkan tokoh-tokoh Aceh di panggung kampanye. Orang Aceh bukan pengemis layaknya mereka. Orang Aceh tidak pernah sedih dari kelaparan. Orang Aceh bisa hidup dengan bercocok tanam. Yang perlu diseriuskan adalah kejujuran para elit politik yang berani ingkar pada idealismenya yang mencengekeram pola pikir rakyat Aceh dengan imbas konflik.

Mereka perlu keihklasan dan introspeksi. Bukan mendadak memantau perkembangan apa yang dibutuhkan rakyat. Kita bukan monyet dalam lembah Seulawah yang perlu dilemparkan makanan.

Permasalahan rakyat Aceh hari ini adalah permasalahan hati nurani yang tak akan pernah selesai, Permasalahan orang Aceh perlu ditampung sehingga keadaan orang Aceh tidak terpecah belah. Rasa solidaritas sesama saudara hancur berkeping-keping bagai cermin yang pecah, saling bermusuhan dan mendendam. Tak ubahnya gejolak api dalam sekam.

Orang Aceh bosan pada elit-elit yang suka menipu, termasuk Pemeritah Pusat. Penulis sudah melakukan beberapa penelitian secara langsung dengan rakyat yang mengalaminya, mereka memanggul ideologi yang tak terarah. Tidak heran kalau perih masih melekat dalam benak dada mereka, dimana jiwa terselebungi sakit yang mendalam.

Ureung Aceh hanjeut tathoek hatè, pepatah tersebut merupakan dasar bagi kepribadian orang Aceh. Kini hati orang Aceh kembali terluka dengan janji-janji palsu. Kalau memang tanah Aceh adalah ladang perang… ya sudah… silahkan… dan kalaulah perang merupakan warisan endatu lanjutkan…, akan tetapi sadarilah wahai saudaraku, sampai kiamat pun permasalahan Aceh tak akan selesai.

Kalau perjanjian yang telah ditandatangani gagal, maka politik gagal, dan semua yang sudah terbangun pun menjadi gagal, hidup orang Aceh pun pastinya gagal di atas kegagalan yang disayembarakan di atas pentas kebohongan. Wallahualam bissawab.

Biodata Penulis
Tempat Tgl lahir : Bungie 2 Appril 1987
Alamat : di Kembang Tanjong, Sigli, Aceh Indonesia
Pekerjaan : Wiraswasta
Kontak Person : Hp 082165109066
Email : afridany.r@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *