Mengulik Persiapkan Jelata Jelang Lebaran

Laporan: Putera Zoelva

LANGSA – www.suarapublik.co.id | Hari Raya Idul Fitri 1438 H/2017, tinggal menghitung hari. Ini pertanda bulan suci ramadhan akan segera berlalu. Guna menghadapi lebaran, sejumlah persiapan tentu dilakukan masyarakat. Bagi kaum ibu, membuat kue adalah salah satunya, disamping mempersiapkan baju bagi anak-anaknya serta kebutuhan lain.

Tulisan ini, khusus mengulas tentang persiapan lebaran dari masayarakat kelas bawah—kaum jelata—yang harus bekerja ekstra guna mencukupi segala kebutuhan perayaan hari kemenangan itu.

Nurma (41 tahun), warga Gampong Sueriget Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa, duduk lesu di depan pintu rumahnya yang terbuat dari papan semperan, saat SuaraPublik menyambanginya, Selasa, 20 Juni 2017.

Tak seperti ibu-ibu lain yang sibuk membuat kue jelang lebaran, ia hanya bisa menanti suami tercinta, Ibrahim (48 tahun), pulang kerja dengan harapan membawa uang yang akan digunakan berbelanja kebutuhan sehari-hari.

“Saya belum ada persiapan apapun untuk lebaran. Buat makan saja susah, gimana mau beli lainnya. Untuk berbuka puasa sore nanti masih belum tau mau masak apa,” ujar Nurma mengawali perbincangan.

Diakui, suaminya hanya pekerja serabutan yang penghasilannya tidak menentu. Nurma sendiri sudah tiga tahun terakhir menjadi baby sister. Menjaga dua orang anak dibawah lima tahun yang dititipkan padanya, saat kedua orangtua anak tersebut bekerja.

“Ini anak orang, saya jaga sudah tiga tahun lalu. awalnya hanya seorang yang perempuan itu. Lalu adiknya yang laki ini juga diminta saya yang jaga oleh ibunya,” terang Nurma menjelaskan ikhwal kedua anak yang dijaganya itu.

Penghasilan Nurma dari menjaga anak tersebut hanya Rp 400 ribu/bulannya. Tentu jumlah yang sedemikian tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, ia tetap melakoninya karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan.

Dengan penghasilan segitu, Nurma dan keluarga tentu tidak bisa memenuhi kebutuhan baju lebaran kepada tiga anak perempuannya; Ira, Ayu dan Rita. Untuk kue saat hari raya, keluarga ini acap kali hanya mengoreng keripik pisang atau ampera. Sedangkan, minuman sirup hanya mengandalkan pemberian orang.

“Ketiga anak saya tidak mempermasalahkan jika tak memiliki baju lebaran. Tapi sebagai ibu, hati saya miris. Anak orang lain berpakaian bagus, anak saya hanya baju seadanya. Kalau sirup kami sering dikasih orang, apa lagi yang titipkan anaknya pada saya, pasti kasih sirup setiap lebaran,” akunya dengan suara parau menahan air mata yang menganak sungai.

Pernah suatu ketika, suaminya bekerja sebagai tukang bangunan. Jelang hari raya seperti ini, tentu dia mengharapkan upah atas kerjanya. Namun, nasib berkata lain, sang pemborong pekerjaan, malah tak membayar sedikitpun jerih payah sang suami. “Waktu itu kami sangat sedih. Namun harus bagaimana. Allah maha tahu,” kenang Nurma.

Untuk lebaran Idul Fitri 1438 H, Nurma mengaku tak ada persiapan khusus. Ia pernah meminta pinjaman pada orangtua yang anaknya dijaga. Akan tetapi, kondisi keuangan keluarga itu juga sedang kesusahan sehingga belum bisa membantu kebutuhan Nurma.

“Ada minta tolong pinjam uang sama ibu yang anaknya saya jaga. Tapi ibu itu minta maaf, karena pekerjaan suaminya juga belum dibayar. Peluh suaminya dinikmati kaum borjois,” kata Nurma menirukan ucapan majikannya itu.

Kepiluan Nurma dan keluarga tidak hanya persoalan kebutuhan jelang Idul Fitri. Ternyata, rumah yang dihuninya kini harus pindah. Lantaran, pemilik tanah akan menggunakannya.

“Saya numpang di sini, tanah milik orang lain, rumah ini kami bangun sendiri dengan bahan seadanya. Habis lebaran ini harus pindah, tapi belum tau kemana,” ungkap Nurma sambil menarik nafas panjang. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *