Kriteria Ideal Seorang Pemimpin

Laporan: Putera Zoelva

LANGSAwww.suarapublik.co.id | Dalam hitungan hari ke depan, sebanyak 20 kabupaten/kota di Aceh akan melaksanakan pemungutan suara pemilihan kepala daerah bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota, ditambah pemilihan gubernur dan wakil gubernur di provinsi paling ujung nusantara ini. Dalam hal ini, sejumlah pasangan calon tentu sudah merancang program andalan guna menarik simpati rakyat agar memilih dirinya.

Rakyat sebagai konstituen, tentu memiliki cara tersendiri dalam melihat rekam jejak para calon pemimpin baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Kesempatan menang para calon petahana tentu secara kasat mata begitu besar. Akan tetapi pesaingnya juga tak tinggal diam dalam melakukan lobi dan gerakan politik supayaa terpilih nantinya.

Tak ayal, singgungan politik di tingkat atas merambat hingga akar rumput. Ironisnya, bak kata pepatah “Gajah berantam, semut mati terinjak-injak.” Keberadaan tim kampanye pasangan calon menjadi pertaruhan, apakah perbedaan politik menjadikan persaudaraan tercabik, nilai ukhuwah tercerai-berai atau sebaliknya. Politik santun dan bersahabat bisa dilakoni secara ciamik dalam pentas demokrasi itu. Seperti slogan Komisi Independen Pemilihan “Beda pilihan, geutanyoe meusyedara.”

Tak sedikit, bentrokan fisik antar pendukung pasangan calon terjadi di beberapa daerah di Aceh. Kabupaten Aceh Timur adalah penyumbang tragedi terbanyak sepanjang tahapan pilkada bergulir. Disamping sejumlah kabupaten/kota lainnya. Tentu hal ini menciderai hakikat perdamaian Aceh yang telah 15 tahun terjaga dengan baik.

Dalam kesempatan edisi ini, punggawa suara publik menurunkan laporan utama terkait ikhwal memilih pemimpin dari beragam aspek. Terutama dalam perspektif Islam, karena mayoritas masyarakat Aceh adalah umat muslim.

Menurut aktivis Forum Masyarakat Demokrasi, Salyofa reza melalui sebuah perbincangan melalui sambungan telepon selular dengan SuaraPublik, pekan lalu, menyampaikan, memilih pemimpin, baik pemimpin negara, baik itu presiden, gubernur, bupati/walikota, semua itu adalah pemimpin bagi setiap warganya. Seorang pemimpin merupakan faktor penting dalam kehidupan masyarakat di suatua daerahnya. Di saat suatu daerah atau kota dipimpin oleh pemimpin yang bersahaja, jujur, cerdas dan amanah, maka insya Allah rakyatnya akan aman, makmur dan sejahtera.

“Namun jika sebaliknya, daerah/kota itu dipimpin oleh pemimpin yang korup, tidak jujur, zalim terhadap rakyatnya, niscaya rakyat akan sengsara. Karenanya, harus berhati-hati dalam memilih pemimpin itu, perlu bagi kita menyiapkan langkah yang baik dalam menentukan pilihan, kita mesti memiliki tips akurat memilih pemimpin yang tepat. Agar pemimpin yang kita pilih benar-benar mampu mengayomi rakyatnya,” ungkap Reza.

Dalam menilai seorang pemimpin, lanjut anak muda ini, kriteria yang tepat adalah dengan merujuk pada gaya atau sifat kepemimpinan Rasulullah SAW. Ada beberapa sifat yang dimiliki oleh para nabi dan rasul, yaitu : Amanah (dapat dipercaya), Siddiq (benar), Fathanah (cerdas/bijaksana), serta tabligh (menyampaikan) , keempat sifat ini juga layak untuk dimiliki oleh seorang pemimpin.

Dijelaskannya, pilihlah pemimpin yang amanah, agar dia benar-benar berusaha menyejahterakan rakyat, mampu menaungi rakyat, mampu menghidupi rakyat, bukannya mencari hidup dari rakyat, mampu melayani rakyatnya, bukan minta dilayani rakyat. Bukan hanya bisa menjual asset negara atau kekayaan alam daerah untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Kemjudian, pemimpin yang cerdas, agar dia tidak mudah ditipu anak buahnya atau kelompok lain yang membuat rugi daerah/kotanya. Seorang pemimpin yang cerdas punya visi dan misi yang jelas untuk memajukan dan menyejahterakan rakyatnya. Dan juga mampu menegakkan keadilan dengan kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan.

“Kadang-kadang kita begitu apatis dengan pemimpin yang korup, sehingga memilih untuk golput (golongan putih). Sikap golput atau tidak memilih pemimpin merupakan sikap yang kurang baik. Seandainya calon pemimpin itu tidak ada yang sesuai kriteria kita, maka pilihlah orang yang lebih baik akhlaknya dan dekat dengan ulama, walau ia tidak sepintar yang lainnya, dari pada memilih orang yang pintar, namun tak beragama. Tapi itu langkah terakhir yang ditempuh, sebaiknya pilihlah yang cerdas intelektualnya dan mantap iman dan akhlaknya,” papar Reza.

Tambahnya, dalam Islam kepemimpinan itu sangat penting, sehingga nabi pernah berkata, “jika kalian bepergian, pilihlah satu orang jadi pemimpin, jika hanya berdua, maka salah satunya jadi pemimpin”. Shalat wajib pun yang paling baik adalah yang ada pemimpinnya (imam). Karena itu, masyarakat mesti menyiapkan tips dan berpikir kritis dalam memilih pemimpin.

Menukil kriteria pemimpin berdasakan Islam dan keilmuan, kata Reza, setidaknya ada beberapa faktor yang harus dilihat, diantaranya:

Pemimpin yang jujur.
Dari Ma’qil ra. berkata : “saya akan menceritakan kepada engkau hadist yang saya dengar dari Rasulullah saw. Dan saya telah mendengar beliau bersabda, “Seseorang yang telah ditugaskan Tuhan untuk memerintah rakyat (pejabat), kalau ia tidak memimpin rakyat dengan jujur, niscaya dia tidak akan memperoleh bau surga. (HR.Bukhari)”. Kita mesti memilih pemimpin yang jujur, yaitu jujur terhadap diri sendiri, maupun orang lain. Jujur dengan kekuatan yang dimiliki, sadar akan kelemahan dalam dirinya, serta berusaha untuk memperbaikinya.

Pemimpin yang transparansi dalam kepemimpinannya, ramah dan bersikap terbuka
Pemimpin yang transparan dalam pemerintahannya dan bersikap terbuka, ia akan mau menerima saran dan kritikan dari rakyat, bahkan ia takkan segan untuk meminta pendapat langsung dari rakyat, demi kemajuan dan kemakmuran rakyatnya. Dengan transparansi juga, rakyat akan percaya kepada pemerintah (karena tidak ada bohong diantara kita). Selain itu carilah pemimpin yang bersikap terbuka, yaitu yang mampu menghormati pesaing dan belajar dari mereka dalam situasi kepemimpinan ataupun kondisi bisnis pada umumnya.

Berlatar belakang yang baik.
Hal ini dapat kita lihat dari pendidikannya, kehidupan, keluarga dan keturunannya. Kita dapat mengetahuinya, setelah kita mencari tahu tentang siapa dia (pemimpin) itu.

Adil
Dewasa ini, memilih pemimpin yang adil sangatlah sulit, jika dibandingkan dengan kriteria lainnya. Kebanyakan pemimpin sekarang gayanya membela untuk kepentingan rakyat, namun dibalik itu rakyat dibikinnya sengsara, demi kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

“sesungguhnya Allah SWT akan melindungi negara yang menegakkan keadilan, walaupun ia kafir, dan sebaliknya, Allah tidak akan melindungi negara yang zalim (tiran), walaupun ia muslim” (Ibn Abi Thalib).

Disaat rakyat kecil yang berlaku salah, katakanlah itu mencuri sebuah coklat ataupun sebuah semangka, itu pun karena kelaparan, tidak ada uang membelinya. Lalu mereka disidang dengan hukuman penjara. Namun disaat tikus-tikus berdasi itu beraksi, mengakibatkan puluhan milyar negara dirugikan.

Tak ada hukuman bagi mereka, mereka masih dibiarkan berkeliaran bebas, menari-nari diatas penderitaan rakyat, menikmati uang haram hasil gelapannya. Hati-hati dengan pemimpin yang demikian, kita tentu tidak mau jika pemimpin yang kita pilih, akan zalim kepada rakyatnya. Allah telah mengingatkan, “Hai orang-orang yang beriman! Tegakkanlah keadilan sebagai saksi karena Allah. Dan janganlah rasa benci mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena itu lebih dekat dengan taqwa” (QS.Al-Maidah : 51).

Di zaman Rasulullah, ketika seorang perempuan dari suku Makhzun harus dipotong tangannya lantaran mencuri, kemudian keluarga perempuan itu meminta Usama Bin Zaid, supaya memohonkan kepada Rasulullah untuk membebaskannya. Rasulullah pun marah. Beliau bahkan mengingatkan bahwa kehancuran masyarakat sebelum kita disebabkan oleh ketidak-adilan dalam supremasi hukum seperti itu.

Dikatakan dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Adakah patut engkau memintakan kebebasan dari satu hukuman dari beberapa hukuman (yang diwajibkan) oleh Allah? Kemudian ia berdiri lalu berkhutbah dan berkata : Hai para manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu itu rusak/binasa dikarenakan apabila orang-orang yang mulia diantara mereka mencuri, mereka dibebaskan. Tetapi, apabila orang yang lemah mencuri, mereka berikan kepadanya hukuman” (HR.Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud,Ahmad, Darlini dan Ibnu Majah).

Begitu pentingnya pemimpin yang adil itu. Muhammad Isa Dawud dalam bukunya “Dajjal Akan Muncul dari Segitiga Bermuda, (1997:17) mengatakan bahwa negeri Swedia yang merupakan negeri terindah di bumi ini, yang bagaikan surga firdausnya dunia, memiliki Raja Karl Gustav yang merupakan seorang penguasa paling adil di muka bumi ini bersama rakyatnya. Selain itu dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairahmengatakan, bahwa ada 7 golongan yang akan mendapatkan perlindungan langsung dari Allah di akhirat kelak, satu diantaranya adalah Pemimpin/imam yang Adil.

Pandai dan Cerdas
Antara orang pandai dengan orang cerdas tidaklah sama. Orang pandai ialah orang yang dapat menjawab semua persoalan dengan ilmunya, seperti kecerdasan berhitung, ilmu teknologi yang bersangkutan dengan kecerdasan Intelektualnya (IQ). Namun orang cerdas mampu membaca keadaan, mencari kesempatan di tengah kesempitan, kalau orang Minangkabau mengenalnya dengan orang yang arif dan bijak. Orang cerdas/arif bijaksana bukan hanya pandai, tapi juga dapat berpandai-pandai demi kemaslahatan rakyatnya. Itulah beda orang pandai dengan orang cerdas atau arif dan bijaksana.

Sebagai pemilih kita mesti cepat tanggap dalam menilai, mana pemimpin yang pandai dan cerdas, mana pemimpin yang cuma pandai. Orang yang banyak bicara dan banyak mengumbar janji, “saya kalau terpilih, saya akan membangun ini dan itu…., mengratiskan ini dan itu….!” Biasa orang seperti itu adalah orang yang bodoh, seperti kata peribahasa “air beriak tanda tak dalam”.

Mampu berkomunikasi, semangat “team work”, kreatif, percaya diri, inovatif dan mobilitas.
Sangat dibutuhkan pemimpin yang memiliki semangat kerja secara bersama-sama dengan mitra kerjanya. Mampu mengubah sebuah tantangan menjadi peluang dan sebagainya.

Jangan Memilih pemimpin yang menjatuhkan atau mejelek-jelekkan orang lain/pemimpin yang sedang berkuasa.
Kalimat yang demikian dapat kita lihat, ketika ia menggelar kampanye. Menjatuhkandan menjelek-jelekkan orang lain, seolah ialah orang yang paling benar. Hati-hatilah dengan orang yang demikian, tidak usah saja dipilih.

Memiliki rasa kehormatan diri, kewibawaan, karisma dan kedisiplinan seorang pemimpin
Dengan demikian ia mampu dan mempunyai rasa tanggungjawab pribadi atas semua kebijakannya. Kita dapat melihat kewibawaan dan karisma/figur seorang pemimpin itu, saat ia berbicara di depan umum dan dalam kepribadian sehari-harinya.

Pilihlah sesuai dengan hati nurani kita.
Jangan pernah sekali-kali berpikiran untuk Golput (golongan putih) atau tidak memilih. Ingat…! Satu suara kita menentukan bangsa dan daerah ini 5 tahun yang akan datang.

Uraian di atas, tambah Reza, menjadi tolak ukur bagi masyarakat dalam menentukan pilihannya pada pilkada Aceh 2017. Baik itu memilih calon gubernur dan wakil gubernur maupun bupati/wakil bupati serta walikota/wakil walikota.

Semoga saja masyarkat Aceh semakin cerdas dan istiqamah dalam memilih pemimpin masa depan. Tidak berpatokan pada “serangan fajar” atau politik uang yang kerap terjadi dewasa ini, demikian Salyofa Reza. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *